Wasmad Edi Susilo Resmi Ditetapkan Tersangka Ditengah Paradok Covid-19 Kota Tegal

Wasmad Edi Susilo Resmi Ditetapkan Tersangka Ditengah Paradok Covid-19 Kota Tegal
Konferensi pers penetapan status Tersangka WES Polres Tegal Kota, Senin (28/9)

Tegal - Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Hidup ini bagaikan roda yang terus berputar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Begitupun nasib yang saat ini menimpa Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Wasmad Edi Susilo atau yang biasa disingkat WES.

Polres Tegal Kota resmi menetapkan WES sebagai Tersangka dalam kaitannya dugaan pelanggaran terhadap Pasal 93 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, jo pasal 216 ayat 1 KUHP, jo pasal 65 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara, denda 100 juta.

Penetapan WES sebagai Tersangka disampaikan langsung Kapolres Tegal Kota, AKBP Rita Wulandari Wibowo yang digelar dalam jumpa pers di Mapolres Tegal Kota, Senin sore (28/9).

Dalam penjelasannya, Rita memaparkan proses penetapan WES sebagai Tersangka sebelumnya didahului dengan memeriksa 15 saksi yang terdiri dari saksi ahli pidana, kesehatan sampai pada internal lembaga kepolisian yang saat itu bertugas dalam mengamankan perhelatan konser musik dangdut, serta telah menyita 7 barang bukti berupa surat pengantar dari ketua Rt/Rw, kelurahan Kalinyamat Wetan, Kecamatan Tegal selatan yang tertanggal 30 Agustus 2020. Surat izin Polsek Tegal selatan bertanggal 1 September 2020 hingga beberapa buku tamu undangan.

Namun demikian Wasmad tidak dikenakan penahanan lantaran menurut Kapolres Rita, karena berdasarkan lama hukuman ancamannya paling lama 1 tahun.

" Melihat ancaman hukuman paling lama 1 tahun, maka kami tidak melakukan penahanan, " Demikian AKBP Rita Wulandari menjelaskan. Bahkan menurutnya penyelenggaraan konser musik dangdut tidak mengindahkan peringatan oleh petugas berwenang.

Sebagaimana  diketahui bersama, WES terjerembab dalam persoalan hukum setelah acara resepsi pernikahan dan khitanan anaknya pada hari Rabu, 23 September 2020 yang menyajikan hiburan musik dangdut dan mendapatkan antusiasme pengunjung hingga membludak dan menjadi viral di medsos setelah ditayangkan di surat kabar online.

Paradok Pandemi Covid-19 Kota Tegal

Kasus kematian demi kematian akibat Covid-19 nampaknya masih belum juga membangunkan kesadaran masyarakat tentang bahayanya virus Corona. Indikasi datangnya gelombang kedua yang banyak dikhawatirkan orang cukup kuat dengan meningkatnya jumlah kematian warga kota Tegal pada dua bulan terakhir yang menunjukan angka signifikan.

Data per hari Jumat, 25 September 2020 yang muncul dalam situs resmi pemerintah Kota Tegal saja corona.tegalkota.go.id sudah memperlihatkan peningkatan jumlah kematian sebanyak 9 orang! Sementara "stok" dalam bayang-bayang kematian sebanyak 13 orang dalam perawatan.

Disaat banyaknya tenaga medis meregang nyawa hanya berjuang untuk mempertahankan nyawa orang lain tetap hidup, disisi lain banyak masyarakat menganggap remeh bahayanya penyebaran virus Corona atau yang dikenal dengan Covid-19 tersebut.

Peristiwa konsentrasi massa dilapangan Kecamatan Tegal selatan, Rabu, (23/92020) dalam acara hajatan resepsi pernikahan dan khitanan anak Wakil Ketua DPRD Kota Tegal, Wasmad Edi Susilo merupakan kali kedua dan WES tidak sendirian. Pada kurun 1 bulan terakhir, telah terjadi konsentrasi massa sangat besar yakni penyelenggaraan sebuah Tabligh Akbar dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriyah bertepatan hari Rabu, 19 Agustus 2020 yang digelar justru oleh Pemkot Tegal dengan mendatangkan ulama Habib Syech bin Abdul Qadir As-segaf dan Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaff. Puluhan ribu massa dari berbagai luar kota berjubel dan berdesakan menuju satu titik Alun-Alun Kota Tegal.

Kota Tegal dalam beberapa waktu terakhir, juga banyak selenggarakan event seperti diantaranya Sedekah Laut yang juga terjadi penghimpunan massa, meski panitia sedekah laut saat itu batal mendatangkan kelompok musik dangdut 'Monata'. Namun tradisi itu tetap menyedot massa besar.

Belum lagi acara-acara hari ulang tahun partai-partai politik yang penyelenggaraannya tledor dalam penerapan standar protokol kesehatan. Bahkan joged Gejug Bumi Walikota Tegal dalam sebuah hajatan warga sempat viral. Dinamika itu seakan terlewatkan dalam bingkai kasuistis yang tak tersentuh jerat hukum. Padahal hukum berlaku surut.

Terlepas dari latar belakang mencuatnya peristiwa 'konser dangdut Tegal selatan', kini Pemkot Tegal gencar kembali terapkan 'kebijakan' pengetatan standar protokol kesehatan termasuk dilakukannya test Swab dibeberapa titik wilayah kota Tegal baik oleh Dinas Kesehatan maupun RSUD Kardinah. (***/Anis Yahya)