Metamorfosis Wanita Tiga Jaman Hadapi Pandemi Covid-19

Metamorfosis Wanita Tiga Jaman Hadapi Pandemi Covid-19
Mbah Kalimah, warga Kelurahan Kalinyamat wetan, Kec Tegal selatan, Kota Tegal, usia 92 tahun masih produktif membatik. Foto oleh Anis Yahya, Rabu (28/10)

Tegal - Wanita itu membatik sejak usia 25 tahun. Di usia 92 tahun, kurus jemarinya masih menarikan karya batiknya diatas lembaran kain mori. Jiwanya tak pernah sunyi meski tak menyisakan kawan sebayanya sirna raga. Kekuatan batin sebagai sahabat kolaborator dengan imajinasi yang menghasilkan karya batik, menguatkan daya survivalnya. Sosok itu bernama Kalimah. Wanita tua asal Kelurahan Kalinyamat Wetan, Kecamatan Tegal selatan, Kota Tegal.

Dalam redup senja usia, mata batinnya masih setajam usia 25 tahun. Saat bertutur masa silam hingga kekinian, ornamen roman Kalimah silih berganti dengan varian ekspresinya, derai air mata basahi keriput pipinya saat bercerita sang Maha kuasa menjemput suaminya, dan terkekeh-kekeh bahagia ketika mengenang romantisme bersama almarhum suaminya.

Kini mbah Kalimah memasuki sebuah era dimana semua orang berbicara soal pandemi covid-19 yang belum pernah dilalui semasa perjalanan panjang hidup sebelumnya.

Mbah Limah, demikian orang-orang sekitar memanggilnya, merupakan anak hasil perkawinan pasangan Kagam bin Tasrim pekerja tani dan Sadriyah ibu rumah tangga. Kedua orang tuanya neninggal dunia sejak Mbah Limah berusia muda. Saat mbah Kalimah remaja, dirinya sangat patuh dan taat pada aturan kedua orang tuanya. Hingga saat kehilangan kedua orang tuanya, mbah Kalimah remaja harus banting setir untuk membiayai hidupnya. Maka diapun bekerja membatik hingga sekarang.

Hidup dimasa transisi dari akhir revolusi kemerdekaan dan usai terbentuknya pemerintahan RI dibawah Ir. Soekarno, saat itu mbah Kalimah menemukan tambatan hatinya bernama Wasjud hingga menuju ke pelaminan. Namun usia perkawinan itu hanya berjalan 3 tahun.

Tak lama kemudian dia menikah lagi dengan seorang laki-laki bernama Taswan bin Kliwon dan telah menurunkan 2 anak dan dianugerahi 11 cucu serta 5 cicit.

Anak pertamanya laki-laki bernama Karsuwito tinggal di Bandung, Jawa Barat dan anak perempuannya Kasdiyah ikut suaminya di Dawuan, Cikampek.

Peralihan atau metamorfosis liku-liku kehidupan mbah Kalimah terlewati dengan sendirinya dari masa pemerintahan Ir. Soekarno,, HM Soeharto, semasa pemerintahan reformasi dari BJ Habiebie, Gus Dur, Megawati, SBY hingga kini era masa pandemi Covid-19 didalam pemerintahan Ir. Joko Widodo, mbah Kalimah tetap konsisten membatik hingga memasuki usianya ke 92 tahun.

Bahkan sikap konsistensinya dalam karya membatik sempat dikagumi Wakil Walikota Tegal HM Jumadi, ST, MT saat melakukan kunjungannya ke rumah mbah Kalimah, Rabu (7/10/2020) silam. Jumadi sangat mengagumi kegigihan mbah Kalimah yang kendati usianya sudah 92 tahun, namun masih produktif menjadi Perajin Batik Tegal dengan motif imajinatifnya.

Banyak hikmah yang didapatkan oleh Jumadi dalam pertemuannya dengan mbah Kalimah. Menurut wanita tiga jaman ini menyebutkan bahwa yang penting dalam hidup itu paling utama menjaga kesehatan, jujur, sederhana dan pandai mensyukuri nikmat yang ada dan dalam menjalankan pekerjaan menggunakan hati bukan semata-mata bekerja. Nampaknya prinsip hidup seperti itulah yang menjadikan mbah Kalimah tetap setia menjalani pekerjaannya membatik hingga tak terasa usia merenta ditelan waktu.

" Saben dina mbatik pak. (Tiap hari membatik pak - red), " Kata mbah Kalimah pada Jumadi saat itu.

Pekerjaan karya seni membatik bukanlah sebuah pekerjaan enteng apalagi yang dilakukan mbah Kalimah membuat pola batiknya langsung penuangan dari ide atau alam pikirnya ke atas kain sehingga membutuhkan ekstra ketelatenan dan itu membutuhkan berhari-hari untuk menghasilkan satu produk karya batiknya. Maka dalam satu bulan, mbah Kalimah dapat memproduksi 3 kain motif batik dimana satu karyanya dihargai Rp 400 ribu,-

Namun sekali lagi bahwa mbah Kalimah merupakan sosok dengan tipikal wanita terbiasa disiplin dan patuh pada aturan seperti aturan orang tuanya semasa mudanya yang membentuk mental kepatuhan. Sehingga bagi dirinya, cukup mudah beradaptasi dalam menyesuaikan segala perkembangan aturan apapun termasuk disaat kondisi pandemi Covid-19 ini.

Bagi mbah Kalimah tidaklah sulit dalam beradaptasi dengan situasi terkini terkait bencana non alam wabah virus corona. Apa yang menjadi anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan dengan mudah dapat diikuti dengan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak berinteraksi sosial dan memakai masker. ( Indept Reporting : Anis Yahya )