KOTA TEGAL, KOTA INDUSTRI

KOTA TEGAL, KOTA INDUSTRI
Abdullah Sungkar, ST, MT

Bagian Pertama

Oleh : Abdullah Sungkar, ST, MT

Pigou menulis ada tiga syarat untuk sejahtera dan mensejahterakan rakyat:-land, labor, capital-. Land, tanah atau rumah untuk tinggal atau berusaha. Labor, lapangan kerja untuk memperoleh biaya hidup. Dan capital, modal uang dan atau keahlian untuk survive dalam kehidupan kota yang semakin ketat persaingannya, dalam bidang apa saja. Pigou adalah ekonom klasik terakhir, dia menulis The Economics of Welfare sebagai textbook ekonomi kesejahteraan. Pigou menawarkan ketersediaan faktor-faktor produksi yang bermuara pada kesejahteraan umum. Prasyarat bagi kesejahteraan ekonomi yang diajukan Pigou adalah invention and improvement, penemuan dan pengembangan atau peningkatan.

Kota Tegal, jika dijejaki sejarah era kolonialnya, adalah sebuah Company Town. Kota yang terbentuk karena memfasilitasi perusahaan-perusahaan Belanda, terutama perusahaan kereta api dan jasa angkutan kapal. Jaringan jalan yang terbentuk telah menunjukkan sistem transportasi antar moda: darat/rel dan laut. Sistem antar moda yang kini dicanangkan kembali.

Tegal sebagai company town dibangun ketika di amerika dan eropa sedang demam 'city beautiful movement', gerakan mempercantik kota-kota dagang yang ditandai dengan taman-taman kota dan gedung kantor dengan facade yang berhampiran langsung dengan jalan raya. Salah satu ruang publik itu bernama Garling Park, yang sekarang taman poci dan sekitarnya. Membangun itu dengan konsep yang jelas, terkandung nilai-nilai, dan peka lingkungan. dengan tetap menampilkan bentuk estetik.

Henry Mclain Pont merancang distrik stasiun Kereta Api Tegal sebagai satu kesatuan lingkungan yang utuh. Dia gunakan sumbu arah Timur-Barat dengan dua kutub, Stasiun dan Masjid Agung. Koridor jalan sumbu ini ditegaskan dengan lining vegetasi pohon kenari yang berfungsi juga untuk membentuk micro climatekawasan. Gedung birao mengarah pada sumbu jalan Utara-Selatan yang diapit dua hamparan rumput berbentuk kotak, yang juga koridor hijau. Sungguh satu kesatuan landscape heritage yang perlu dijaga sebagai pusaka kota.

Luas Kota Tegal sebelum pengembangan wilayah tidak seluas sekarang. Margadana dan sebagian Tegal Selatan masih wilayah administrasi Pemkab Tegal.

Dulu Tegal lebih mendekati konsep Compact City, kota yang padat penduduknya, lengkap infrastrukturnya, dan setiap bagian kotanya mudah dicapai dalam sepuluh menit jalan kaki. Bagian timur kota pada district stasiun kereta api dirancang sebagai company town, kota dalam kota yang juga lengkap infrastrukturnya. 

Tiga puluh tahun setelah pengembangan kota secara spatial diberikan Pemerintah kepada Kota Tegal, wajah bagian wilayah kota hasil pengembangan tidak terlalu kentara ciri urbanized.

Tegal Kota Industri ?
(bersambung)

Penulis adalah Anggota DPRD Kota Tegal Periode 1999-2004 dan 2009-2014.