Desa di Brebes Menjadi Tujuan Utama Studi Banding Penanganan Ibu Hamil

Desa di Brebes Menjadi Tujuan Utama Studi Banding Penanganan Ibu Hamil

BREBES - Keberhasilan Desa Kaligiri, Kecamatan Sirampog, Brebes dalam penanganan ibu hamil (Bumil) membuat daerah-daerah lain studi banding di desa tersebut.

Daerah-daerah tersebut berasal dari Kabupaten Brebes, luar Kabupaten Brebes.

Pada Kamis (22/10/2020) Desa Kaligiri juga menerima studi banding dari Desa Taraban Kecamatan Paguyangan. Rencananya, desa-desa lain juga akan study banding ke Desa Kaligiri.

"Akademisi juga pernah datang ke Kaligiri untuk melakukan penelitian," kata Kepala Desa Kaligiri Rosidin.

Rosidin mengungkapkan, baru-baru ini juga telah berkunjung camat se Kabupaten Brebes bersama dengan bupati dalam rangka implementasi grebeg wong meteng.

"Kami memulai kegiatan penanganan ibu hamil sejak tahun 2013 melalui Forum Kesehatan Desa (FKD)," tutur Rosidin.

Ketua FKD Desa Kaligiri Karsono mengatakan, meskipun dibentuk tahun 2013, namun dukungan kegiatan dari Pemerintah Desa baru tahun 2014 melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

"Saat itu kami baru bisa menganggarkan kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan sebesar Rp 2.020.000," ucap Rosidin.

Ia menambahkan, pada tahun berikutnya, yakni tahun 2015 dukungan dari APBDes untuk kegiatan kesehatan dinaikan menjadi Rp 5.960.000.

Dukungan dari APBDes tahun 2016 kembali bertambah dari tahun sebelumnya menjadi Rp 7.374.500.

Sedangkan pada tahun 2017 dukungan dari APBDes naik tajam menjadi Rp 237.510.000.

"Untuk tahun 2018 hanya dianggarkan sebesar Rp 112.000.000," ungkap Rosidin

Pada tahun 2019 anggaran untuk kegiatan kesehatan kembali naik menjadi Rp 252.000.000.

Salah satu anggota FKD Desa Kaligiri Kalimi menuturkan, kesuksesan desanya dalam penanganan ibu hamil tidak terlepas dari semua pihak, termasuk pemerintah desa.

"Alhamdulillah bapak Kepala Desa selalu mendukung kegiatan kami," ungkap Kalimi.

Ia mengungkapkan, awalnya banyak rintangan-rintangan yang dihadapi, namun berkat keihlasan para pegiat, rintangan tersebut bisa dilalui.

"Penolakan sempat terjadi karena mereka belum memahami tujuan baik kami," tutur Kalimi.

Namun, lanjut Kalimi, jerih payah pegiat kesehatan membuahkan hasil dengan tidak adanya kematian ibu dan bayi.